Tuesday, July 05, 2011

Kekayaan yang Sesungguhnya

Había una vez... ada sebuah keluarga kaya akan materi dengan ayah seorang businessman yang sukses dan ibu seorang wanita karier yang tidak bisa dibilang gagal. Keluarga itu dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan. 


Kini ia beranjak remaja. Dia selalu dimanjakan. sebenarnya dia tidak bodoh. hanya malas. malahan dia sangat cerdas. Namun hari ayahnya menghawatirkan anaknya itu. 


"keadaan hidup yang terus seperti ini tidak akan baik bagi perkembangan psikologisnya. ia akan cenderung tergantung pada apa yang sudah ada dan pasti menjadi malas." 


ayahnya terus memikirkan tentang hal itu. ia tak ingin anaknya itu siap bila nanti ia maupun keluarganya jatuh miskin karena bisnis mereka bangkrut.


Namun ayah itu ingin membicarakan hal tersebut pada istrinya, ia takut kalau istrinya tidak setuju akan hal itu. Dia juga berjaga-jaga supaya istrinya tidak kaget dengan rencananya itu. (bapaknya susis, takut dimarahi istrinya..haha)


Setelah melalui beberapa argumen dan perdebatan. mereka sepakat untuk berpura-pura mengalami kebangkrutan dalam bekerja. ibunya yang wanita karir itu mengambil cuti, dan hendak berkata pada anaknya bahwa ia dipecat dari kantornya. 


Akhirnya setelah berkesepakatan demikian, mereka langsung mengaplikasikan rencana mereka pada anaknya. Mereka berkata seperti apa yang mereka rencanakan 


"papa bangkrut nak, saham papa dibeli investor asing. perusahaan papa juga diambil alih. semuanya habis."  kata ayahnya pada anaknya, yang langsung disambung ibunya 


"ini benar-benar musibah nak! ibu juga dipecat, rumah kita disita juga. semua harta ludes nak! kita kere". 


Namun apa kata anak itu pada orangtuanya? 


"enggak papa kok ma, pah. kita juga gak bisa ngandalin harta terus.. ini udah takdir". satu poin yang tak terduga oleh orang tuanya.


Kemudian mereka pergi ke suatu desa, kerumah seorang petani yang sebelumnya telah berkong-kalikong dengan sang ayah. mereka hidup bersama dengan keluarga --bahkan bisa disebut desa-- petani, karena orang-orang sekitar bermata pencaharian sebagai petani.


Di desa itu, keluarga yang kaya materi tadi mencangkul, mencari rumput untuk kambing dan sapi peliharaan, merawat ladang dan kebun, membajak sawah, dan merasakan makanan sehari-hari yang ada di hidup para buruh tani. Dalam semua pekerjaan itu, si anak tabah, bahkan tiada sedikitpun keluhan yang tercelotehkan dari mulutnya. Ia lebih banyak memperhaikan sekitar dan berkomunikasi dengan para petani lain. Dia yang sebelumnya pendiam dan egois, kini beranjak ramah dan sering berbagi. Dia bersahabat dengan semua petani sekitar. Ia hampir menyatu dengan petani dan lingkungan itu.


Malam itu orangtuanya membicarakan kebaikan sifat anaknya itu. 


"Bu.. anak kita tabah sekali. hatinya sangat menerima keadaan, bu" kata ayah itu.


"Ibu juga bangga, yah. saat melakukan pekerjaan, dia melakukan dengan sungguh-sungguh, dia melakukan yang terbaik darinya" tambah ibunya.


"kalau begitu, bagaimana kalau kita lontarkan fakta yang terjadi ini bu?" tanya ayahnya. 


"jangan, yah! dia belum tahu kesusahan gagal panen dan serangan hama. semua ini belum apa-apa dibanding yang ibu rasain dulu di desa" cetus sang ibu. 


"baiklah, bu. kita tunggu sampai panen. nanti kerugian pak tani kita ganti" ujar ayahnya.


Mereka terus menetap di desa tersebut sampai masa panen. Sebelum berpanen, si ayah tersebut telah berunding tentang rencana mereka itu pada petani tersebut. Dengan senang hati pak tani membantu, karena mengetahui akan maksud baik kedua prang tua itu 


"Kalau untuk mengajari anak seperti itu, say tidak keberatan...pak" ujar petani itu.


 Pak tani membeli hama walang, menangkap beberapa tikus dan tidak memberi pestisida pada sawahnya.
Alhasil walang sangit datang menyerang sawah itu. Dan saat dipanen, akhirnya beberapa kata umpatan diucapkan anak itu, karena ia merasa telah berusaha mati-matian demi mendapatkan panen yang dinanti-nanti. Ia menyesal dan meminta maaf pada petani sekitar akan hal-hal yang terjadi itu.


Namun karena tujuan orangtuanya sudah tercapai, akhirnya orang taunya menyampaikan kebenaran itu. Mendengan itu, sang remaja langsung terdiam.. Dia sadar akan kehidupannya selama ini, betapa mudahnya kehidupan yang ia hadapi, bila dibandingkan dengan buruh tani. 


Akhirnya mereka pulang, menuju kehidupan lama mereka. Ditengah jalan, ayahnya bertanya kepada anaknya itu.


 "Nak, pelajaran apa yang kamu dapatkan setelah belajar dari kehidupan sederhana itu?" 


jawab anak itu


 "Kita memiliki satu anjing untuk menjaga rumah, mereka mempunyai empat untuk berburu. Kita mempunyai kolam kecil di taman, mereka mempunyai sungai. Dirumah kita ada lampu taman, tapi mereka memiliki bintang-bintang yang bersinar. Kita punya lahan kecil untuk hidup, sedangkan mereka hidup bersama alam. Kita mempunyai pembantu untuk melayanai kita, mereka hidup untuk melayani orang lain. Kita membangun pagar tinggi untuk melindungi, namun mereka mempunyai banyak teman yang saling melindungi. Terimakasih, ayah telah menunjukkan betapa miskinnya kita. Sebaliknya bersyukurlah dengan apa yang telah kita miliki, jangan risaukan apa yang tidak kita miliki"

No comments:

Post a Comment